Sekabel siap bentuk Dewan Kayu Indonesia tingkatkan ekspor

“Kami sedang menggodok suatu formula untuk meningkatkan ekspor produksi industri kayu. Namun, hal ini belum bisa disampaikan,” kata Wisnu.

Solo (ANTARA) – Sedulur Kayu dan Mebel (Sekabel) Jokowi siap membentuk Dewan Kayu Indonesia atau Indonesia Timber Council (ITC) sebagai wadah lintas asosiasi industri kayu untuk meningkatkan ekspor komoditas tersebut.

“Kami sudah mendapatkan formula untuk menggerakkan itu, dan ini riil, karena kami pelaku bisnis ekspor perkayuan dan mebel sudah puluhan tahun berusaha di Indonesia,” kata Ketua DPP Sekabel Jokowi, Setyo Wisnu Broto di Solo, Jawa Tengah, Selasa.

Setyo Wisnu Broto mengatakan bahwa Indonesia mengalami devisit berjalan karena ekspor lemah, dan Sekabel hadir untuk ikut berupaya meningkatkan ekspor guna mengambil peran di pasar dunia.

“Kami sedang menggodok suatu formula untuk meningkatkan ekspor produksi industri kayu. Namun, hal ini belum bisa disampaikan,” kata Wisnu.

Hal tersebut, kata Wisnu, mencontoh perdagangan dunia antara Amerika Serikat dan China, akhirnya bisa terlihat jika strateginya terbuka dan terbaca. Strategi perdagangan dunia, China akhirnya dapat dikalahkan oleh AS.

Sekabel, sebuah perkumpulan para pengusaha kayu dan mebel akan melakukan langkah konkret untuk menaikkan devisa negara secara riil. Sekabel memiliki litbang untuk melakukan itu, salah satunya ITC yang segera dibentuk dan dideklarasikan. Jika ITC terbentuk tahun ini, pihaknya menjamin targat 10 persen menguasai perdagangan dunia bisa tercapai.

“Industri kayu dan mebel Indonesia menguasai 2 persen pangsa  pasar dunia, dan target 4 hingga 5 tahun ke depan meningkat menjadi 10 persen,” katanya.

Sekabel mengharapkan pemerintah hasil Pilpres 2019 dapat memberikan harapan besar bagi pertumbuhan dan perkembangan sektor kayu Indonesia di pasar dunia.

Wakil Ketua DPP Sekabel Supriyadi menabambahkan bahwa pihaknya optimistis periode lima tahun ke depan akan menang dalam perdagangan dunia perkayuan. Perputaran uang di  pasar kayu dunia mencapai Rp14 triliun per tahun.

Menurut Supriyadi, jika Indonesia bisa bergerak dengan melakukan pendataan dan pengelolaan sumber daya alam untuk pengolahan bersama,  Indonesia akan memenangi persaingan di pasar dunia. “Kami akan mampu menembus 10 persen di pasar dunia dan sekarang baru mencapai sekitar 2 persen,” katanya.

Pewarta: Bambang Dwi Marwoto
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019