Pasar Pekalongan di Lampung Timur raih pasar Pakyat Terbaik

Lampung Timur (ANTARA) – Pasar sebagai tempat perputaran ekonomi masyarakat di suatu daerah menjadi sarana aktivitas pedagang dan pembeli dalam bertransaksi langsung dan saling memberi keuntungan.

Keberadaan pasar seperti pasar tradisional atau pasar rakyat berdampak bagi pemerintah dengan adanya pemasukan pendapatan ke kas daerah dalam bentuk retribusi (pajak), sehingga semakin maju pasar di satu daerah akan memberi dampak ekonomi yang besar kepada berbagai pihak di sekitarnya.

Menurut Edy Susilo, Kepala Bidang Perdagangan (Kabid) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lampung Timur terdapat sembilan pasar rakyat yang dikelola Pemerintah Kabupaten Lampung Timur.

Sembilan pasar rakyat yang dikelola Pemkab Lampung Timur itu adalah Pasar Pekalongan, Pasar Rajabasa Lama, Pasar Labuhan Maringgai, Pasar Sekampung, Pasar Way Jepara, Pasar Purbolinggo, Pasar Raman Utara, Pasar Sukadana, dan Pasar Melinting.

Jumlah pedagang pada sembilan pasar rakyat itu mencapai 4.989 pedagang dengan berbagai jenis barang yang diperdagangkan. Sementara jumlah pasar desa sebanyak 52 pasar.

Sebagai upaya menjaga eksistensi pasar rakyat, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perdagangan telah mencanangkan Program Nasional Revitalisasi Pasar Rakyat.

Pemkab Lampung Timur menerima dana sebesar Rp37 miliar untuk pelaksanaan Program Nasional Revitalisasi Pasar Rakyat ini. Sebanyak enam pasar rakyat dengan tipe C yang direvitalisasi oleh Pemkab Lampung Timur dari program nasional tersebut.

Keenam pasar itu adalah Pasar Pekalongan di Kecamatan Pekalongan direvitalisasi tahun 2015. Pasar Rajabasa Lama di Kecamatan Labuhan Ratu direvitalisasi tahun 2017, Pasar Labuhan Maringgai di Kecamatan Labuhan Maringgai direvitalisasi tahun 2017, Pasar Way Jepara di Kecamatan Way Jepara, direvitalisasi tahun 2018. dan Pasar Sekampung di Kecamatan Sekampung direvitalisasi tahun 2018.

Pasar rakyat yang direvitalisasi tersebut dilengkapi sarana dan prasarana, di antaranya kamar mandi plus toilet, ATM Center, Pos Kesehatan, cold storage (tempat pendingin daging dan ikan), drainase (saluran pembuangan limbah), dan ruang menyusui.

Ruang untuk pedagang juga diatur sedemikian rupa agar tidak semrawut.

Saat ini kelima pasar tersebut telah difungsikan, kata Edy Susilo lagi.

Edy Susilo menyatakan, dampak setelah direvitalisasi, lima pasar tersebut sekarang ini makin ramai didatangi konsumen. “Yang jelas omzet pedagang menjadi naik, karena pasarnya jadi bersih dan lebih rapi,” ujarnya pula.

Dia menyebutkan, omzet pedagang di Pasar Pekalongan yang dihitung pihaknya sebelum revitalisasi sekitar Rp45 juta per hari, sehingga diharapkan akan terus bertambah setelah direvitalisasi.

Pasar Rakyat Terbaik

Belum lama ini, Kementerian Perdagangan RI memberikan penghargaan terbaik untuk pasar rakyat yang menerima Program Nasional Revitalisasi Pasar Rakyat. Pasar Pekalongan di Kabupaten Lampung Timur terpilih sebagai pasar rakyat terbaik.

Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim menyatakan berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo dan Pemerintah Pusat atas penghargaan tersebut.

Chusnunia juga secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita karena kementeriannya telah memberikan anggaran untuk revitalisasi pasar rakyat di Kabupaten Lampung Timur.

“Lampung Timur terima penghargaan pasar revitalisasi yang terbaik, terima kasih Bapak Presiden Joko Widodo dan khususnya Pak Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, karena Lampung Timur mendapat program revitalisasi pasar rakyat itu,” kata Chusnunia.

Nunik sapaan akrab Bupati Lampung Timur itu, berharap pasar rakyat hasil revitalisasi tersebut bermanfaat buat semua pihak terutama masyarakatnya.

  Suasana di Pasar Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur, yang menjadi salah satu pasar rakyat yang telah direvitalisasi oleh Kementerian Perdagangan RI. (FOTO: ANTARA Lampung/Hendra Kurniawan)

Namun, meskipun mendapat predikat sebagai pasar rakyat terbaik, ternyata keberadaan Pasar Pekalongan juga masih menuai pro dan kontra dari para pedagang, termasuk yang mengeluhkan adanya penurunan omzet penjualan.

Muhadir Yusuf (45) salah satu pedagang di pasar itu menilai, penataan Pasar Pekalongan memang sudah baik sebab dengan penataan ini kondisi Pasar Pekalongan menjadi lebih rapi. Tetapi, dengan penataan ini omzet pedagang justru cenderung menurun.

“Sebenarnya sudah bagus, Mas. Tetapi, ya, itu omzet menurun, karena mungkin dulu pembeli yang sudah berlangganan bingung mencarinya setelah sekarang kami tempat berdagangnya pindah. Banyak, kok, Mas, toko yang sudah tutup. Kemungkinan karena itu,” katanya pula.

Ia menambahkan, saluran pembuangan air limbah di pasar itu juga menjadi salah satu penyebab keluhan pedagang, disebabkan karena pembuangan air limbah yang menimbulkan bau dan menganggu para pedagang maupun pembeli.

“Harusnya lewat paralon. Ini salurannya ditutup memang tetapi ada lubang, ya, tetap saja menimbulkan bau. Rata-rata itu yang menjadi keluhan pedagang di posisi kios pinggir maupun tengah,” ujarnya lagi.

Menurutnya lagi, Pasar Pekalongan juga tidak dilengkapi alat pemadam api ringan (APAR) maupun hidran. “Dulu pasar ini kan beberapa kali mengalami kebakaran, sehingga menyebabkan pedagang sedikit trauma. Yang sekarang malah tidak tersedia APAR atau hidran juga tidak ada,” katanya pula.

Tapi berbeda dengan Anton (28), pedagang lainnya di Pasar Pekalongan. Pihaknya mengaku senang dengan adanya revitalisasi Pasar Pekalongan karena saat ini kondisinya lebih tertata rapi, dan akses untuk membawa barang masuk ke kios lebih mudah karena jalan masuknya lebih lebar.

“Dulu itu tidak rapi mas. Apalagi saat ini jalan masuknya luas, jadi lebih mudah untuk masuk membawa barang yang berat,” ujar dia.

Ditambah lagi dengan kondisi jalan di pasar yang tidak becek lagi seperti sebelumnya. “Apalagi kiosnya dikasih gratis, siapa yang tidak senang. Kami tinggal disuruh nempati, siapa yang tidak mau mas,” katanya pula.

Namun, berbeda lagi dengan pasar sayuran di bagian belakang yang kondisinya kumuh dan berbau dari tumpukan sampah di lokasi tersebut.

  Pasar Pekalongan di Kabupaten Lampung Timur. (FOTO: ANTARA Lampung/Hendra Kurniawan)

Parmi (68), salah satu pedagang mengatakan, sampah-sampah di pasar tersebut hanya diambil oleh petugas kebersihan dua kali dalam seminggu, sehingga akibatnya sampah menumpuk dan menimbulkan bau menyengat. “Ini sampah yang diambil dalam kontainer saja mas. Yang sudah membludak di bawah itu tidak diangkut,” ujarnya pula.

Menurut dia, kondisi ini akan lebih parah ketika hujan turun. Tumpukan sampah yang di bawah akan menimbulkan bau yang menyengat dan lalat yang banyak.

“Terganggu, Mas. Para pedagang di sini sangat berharap sampah diangkut supaya tidak mengganggu kami dan para pembeli,” katanya lagi.

Salah satu konsumen, Ujang (45) mengaku kondisi Pasar Pekalongan saat ini sudah bagus dan rapi. Dahulu, pengunjung harus berimpitan dan melewati jalan becek ketika mengunjungi pasar tersebut.

“Sejak dibuat kios-kios seperti ini jadi lebih enak. Lebih tertata, rapi. Kita juga enak masuknya karena jalan di pasar ini dipasang paving,” ujarnya pula.*

Baca juga: Pemerintah siapkan “marketplace” khusus pasar rakyat

Baca juga: Rejowinangun dinobatkan sebagai pasar rakyat ramah difabel

Pewarta: Budisantoso B, Muklasin & Hendra Kurniawan
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019