Pakar: kedua capres harus pikirkan energi nuklir

Negara lain sudah memikirkan bahkan merencanakan pembangkit energi dari nuklir, nah saya harapkan kedua capres memiliki wacana ini, sebab ini harus dikejar

Jakarta, (ANTARA News) – Pakar energi dan juga anggota legislatif Komisi VII DPR RI Kurtubi berpendapat bahwa kedua calon presiden baik nomor nol satu dan nol dua ada baiknya mulai memikirkan ketahanan energi dari pembangkit nuklir.

“Negara lain sudah memikirkan bahkan merencanakan pembangkit energi dari nuklir, nah saya harapkan kedua capres memiliki wacana ini, sebab ini harus dikejar,” kata Kurtubi dalam diskusi menuju debat kedua Capres 2019, di Jakarta, Rabu.

Kurtubi menjelaskan pentingnya energi nuklir sebab Indonesia memiliki potensi untuk mewujudkan hal tersebut. Dengan adanya pembangkit nuklir akan membuat pemenuhan listrik di seluruh nusantara lebih mudah tercapai.

Menurutnya, untuk menjadi negara maju, setiap wilayah di Indonesia harus teraliri jaringan listrik tanpa terkecuali, pembangkit nuklir memiliki kekuatan besar untuk itu.

Alternatif lainnya misalkan dengan energi terbarukan menggunakan tenaga surya, akan membutuhkan lahan yang sangat luas guna menghasilkan tenaga besar.

Selain itu, biaya membuat pembangkit tenaga surya di seluruh Indonesia dinilai memiliki nilai investasi yang besar di awal, namun hasil energinya kurang sebanding.

Kurtubi memberikan apresiasi kepada pemerintah saat ini di mana rasio elektrifikasi hampir memenuhi target 100 persen. Namun, kebutuhan yang besar membuat infrastruktur listrik juga harus menghasilkan tenaga besar untuk menarik investor. 

Sebelumnya, pada kesempatan berbeda Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan Indonesia sudah siap dari segi teknologi dan sumber daya manusia (SDM) untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).  

“Kami sudah siapkan buku putih PLTN, baik dari segi tempat, teknologi, maupun masalah teknologi,” kata Nasir.

Kalau dari segi geografis maka berdasarkan buku putih tersebut, menurut dia, daerah yang memiliki potensi untuk dibangun PLTN antara lain Kalimatan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan), Sumatera bagian timur (Bangka-Belitung), Jawa bagian utara (Jawa Tengah).

“Jika itu bisa dibangun 10 pembangkit kapasitas 1400 Mega Watt (MW) berarti 14.000 MW bisa dihasilkan di Kalimatan. Jika itu terjadi Kalimantan siap menjadi kawasan industri baru karena energi tersedia,” ujar dia.

Lebih lanjut, Nasir mengatakan harga listrik yang dihasilkan PLTN ini relatif murah. Namun demikian masih perlu didiskusikan lagi teknologi nuklir yang akan diterapkan.

“Apakah pakai High Temperature Gas Coolled Reactor (HTGR),  itu belum provenharus riset lagi.Mungkin bisa pakai PWR (Pressurized Water Reactor) dan HWR (Heavy Water Reactor), teknologinya dari Jepang, Rusia, Prancis atau Jerman,” ujar dia. 

Baca juga: Debat capres dan komitmen untuk energi terbarukan

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019