Mata air menyeka air mata Marfuah

Lamongan (ANTARA) – Peribahasa lama mengatakan “jangan menangguk di air keruh”, yang bermakna jangan mengambil keuntungan di antara kesusahan orang. Jauh lebih dalam lagi menyusur Pantura Lamongan, Jawa Timur, tinggal seorang nenek. Marfuah, begitu ia menyebutkan namanya secara terbata.

Bagi Marfuah, jangankan menangguk, nampak berkaca-kaca menatap, baginya air keruh paling terasa nyata. Dengan kulitnya yang sudah legam, bahkan urat lengannya mulai beradu dengan tulang, Marfuah dengan kepayahan membawa ember kosong yang masih nampak bekas adukan sisa semen di pinggirnya.

“Mau ambil air di empang desa, untuk minum ternak entok,” kata Marfuah, warga Desa Sekaran, Lamongan. Dua kali ia menimba air dari empang, “Yang ini untuk saya minum sehari-hari,” jawabnya sambil senyum berlipat kerut dengan gigi yang turut goyah.

Marfuah meniti tataran semen yang mulai merekah, nampak gontai di setiap tingkatnya. Sesampai di tepi empang seluas lapangan tenis, Marfuah meliukkan ember di atas air dengan lembut seperti penari menggerakkan sampur di lengan menggoda lelaki.

Sayangnya, kelembutan Marfuah melangsir air bukan suatu tarian, namun menyibakkan kotoran serta lumut yang memalsukan jernihnya air. Sebab, apabila digoyangkan sedikit keras, lumut akan semakin mengeruhkan air, seperti menghitamnya kopi menyeru air.

Betul, sekeruh itu empang di Desa Sekaran, Lamongan. Lebih buruk dari itu adalah Marfuah meminumnya untuk sekadar membasahi kerongkongan yang dicekik dahaga setiap hari.

Bertahun-tahun lamanya nenek peternak entok ini meminum air empang penampung hujan tersebut. Bukan daerah yang gersang seperti gurun, namun Sekaran memang mengalami krisis air bersih untuk kebutuhan konsumsi. Kondisi embung tadah hujan yang keruh di Desa Sekaran, Lamongan, Jawa Timur. (Afut Nusyirwan)
Tetangga Marfuah, masih di desa yang sama, Pak Dorfi, bahkan enggan memasak air tadah hujan tersebut untuk minum. “Air ini kami sedot hanya untuk mandi dan mencuci, karena kurang layak jika diminum,” kata Dorfi.

Dengan kaos putih usang yang nampak bekas lubang sobekan kain termakan usia, Dorfi berkisah bahwa empang ini menjadi sumber utama bagi warga dDes Sekaran, sebab air PDAM tak lagi bisa mengalir, bahkan untuk mencuci kuku.

Untuk memenuhi empang, warga Sekaran menanti pengasihan langit untuk membawa sekadar rintik hujan. Bagaimana dengan kemarau? Itu hanya menjadi mimpi buruk yang tertunda bagi warga.

Bahkan jika tidak sabar lagi menanti gerimis karena menangnya sengat matahari, masyarakat harus membayar sebesar Rp2 juta untuk membuat cekungan penuh air menjadi Oase sejenak.

Warga menyewa jalur pengairan sawah dengan durasi per jam untuk dialirkan ke empang desa. Sebab, aliran tersebut menyedot aliran Sungai Bengawan Solo dengan alat pompa yang cukup berbiaya.

Sungai pujaan Gesang (almarhum) tersebut, terlampau jauh jarak dari pemukiman Dorfi dan Marfuah, sehingga harus menggunakan pipa tambahan. Pengorbanan Rp2 juta tersebut harus ditebus dengan patungan seluruh masyarakat.

Solusi lain adalah Dorfi membeli air dengan membayar Rp2.000 per jerigen ukuran sekitar 10 liter, dan per hari kadang butuh dua kali, sehingga butuh sekitar Rp4.000. “Lamongan ini wilayah yang maju, perekonomian juga tidak ada masalah, hanya saja masalah air bersih masih menjadi kendala besar,” keluh Dorfi sembari mulai mengusap sepeda ontel-nya.

Sumur Bor
Usapan Dorfi kepada ontel, mulai berbeda, ia sedikit melirik dengan senyum yang lebih mengembang ketika mengubah pandangan pada sebuah tandon air berwarna biru yang dikelilingi pipa kecil di bawahnya.

“Sumur bor itu hadir benar-benar hal yang tepat, hal sederhana namun belum bisa kami selesaikan bersama sejak dulu, mengambil air dari tanah dalam,” sahut Dorfi sembari melangkah kaki sedikit mendekat ke arah tandon sumur bor.

Menurutnya semenjak adanya sumur bor sedalam 125 meter tersebut, masyarakat tidak lagi dihantui oleh kemarau, dan hingga saat ini bahkan masih gratis untuk dapat mengambil air bersih. Kondisi embung tadah hujan yang keruh di Desa Sekaran, Lamongan, Jawa Timur. (Afut Nusyirwan)
Menurutnya, satu tandon dan sumur bor yang hadir, hanya masih bisa memenuhi sepertiga penduduk desa, namun itu sudah menjadi harapan baru bahwa di desanya mulai menetes air layak minum.

Dengan adanya sumur bor dari air tanah dalam tersebut, warga dapat menghemat seperlima puluh dibandingkan membeli air bersih dari truk. Karena, nantinya ketika sudah dikelola BUMDes, air akan dijual Rp1.500 per meter kubik, bukan per jerigen.

Dan Dorfi bisa memberikan air layak minum, untuk mengobati dahaga bibi-nya yang renta kalah melawan waktu, yaitu, Marfuah.

Tetesan air itu datang dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), di mana pada tahun 2019 mengalokasikan anggaran untuk membangun sebanyak 650 sumur bor di seluruh daerah di Indonesia.

Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar sebelumnya mengatakan, hingga akhir tahun 2018, sumur bor tersebut telah melayani kebutuhan 6,6 juta jiwa penduduk.

Untuk tahun 2019 penduduk yang dilayani akan bertambah 1,8 juta jiwa melalui pembangunan 650 unit sumur bor di seluruh Indonesia, salah satunya di desa tempat Dorfi.

“Kementerian ESDM pada tahun 2019 ini kembali meningkatkan anggaran program pembangunan sumur bor air tanah untuk dapat dibangun sebanyak 650 unit sumur bor, yang dapat melayani sampai dengan 1,8 juta jiwa penduduk,” ujar Rudy.

Dengan kapasitas debit air mencapai 683,3 ribu m3/tahun, tambahan sumur bor di tahun 2019 ini akan didistribusikan kepada 31 wilayah provinsi dan 232 wilayah kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Jika ditelisik ke belakang, sejatinya sumur bor sudah mulai dibangun sejak tahun 2005, baru terbangun 26 unit di tahun tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya sumur bor terus dibangun guna memberikan akses air bersih kepada masyarakat sulit air dari Sabang sampai Merauke.

Setiap tahun, anggaran Kementerian ESDM untuk pembangunan sumur bor ini terus ditingkatkan. Misalnya saja di tahun 2015 dibangun 105 sumur, tahun 2016 sebanyak 197 sumur dan tahun 2017 dibangun 237 buah sumur.

Lonjakan pembangunan sumur bor terlihat di tahun 2018, anggaran pembangunan sumur bertambah lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Sebanyak 506 titik telah dipasang unit sumur bor yang terdiri dari sumur, pompa selam, rumah pompa, mesin generator kapasitas 10 kVA beserta rumah genset dan penampung air kapasitas 5.000 liter yang dilengkapi dengan kran.

Hingga akhir 2018 sudah terdapat 2.288 titik sumur bor telah dibangun yang memberikan layanan air bersih kepada 6,6 juta jiwa. Dari titik-titik sumur bor tersebut mengalir 144,4 juta m3 /tahun untuk 499 Desa di 396 Kecamatan yang tersebar di 175 Kabupaten/Kota yang terdapat di 27 provinsi seluruh Indonesia.

“Pada tahun 2018, Badan Geologi juga membantu penyediaan sarana air bersih melalui pembangunan sumur bor tanggap darurat sebanyak 55 unit, untuk Gunung Agung di Pulau Bali sebanyak 5 unit untuk bencana erupsi; sebanyak 13 unit untuk bencana gempa bumi di Pulau Lombok dan sebanyak 37 unit untuk bencana gempabumi-tsunami-likuifaksi di Sulawesi Tengah,” jelas Rudi.

Pembangunan sumur bor yang sejak 2005 ini diakui Rudi bukan perkara mudah. Berbagai kendala dihadapi mulai dari proses pencarian sumber air, proses pengeboran yang terkadang sulit karena tanah yang padat dan berbatu, serta akses transportasi yang sulit untuk remote area. Meski demikian, pembangunan sumur bor terus dilakukan sehingga setiap tahun jumlahnya terus meningkat. Mengingat air merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi, baik untuk konsumsi sehari-hari maupun untuk kebutuhan lainnya.

Tidak sesederhana itu membangun sumur bor, nyatanya, Rudy menjelaskan, biaya investasi per sumur adalah antara Rp300 juta sampai Rp500 juta, tergantung kesukaran cekungan dan jenis tanah. (*)

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019