Ini cara Kemenpar promosikan kuliner Indonesia di luar negeri

Jadi kita ‘memancing’ di restoran mancanegara yang menyajikan masakan dari negara Asia. Caranya, memberikan menu khas Indonesia untuk memikat lidah. Lewat pengenalan ini, kita harapkan wisatawan akan mendapatkan kesan

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggandeng sejumlah restoran khas Asia di luar negeri untuk dapat bekerja sama menyajikan menu khas Indonesia sebagai upaya menarik kunjungan wisatawan ke Tanah Air.

Upaya itu sebagai cara cerdas untuk berdiplomasi kuliner di negeri tetangga tanpa harus menambah jumlah restoran.

“Jadi kita ‘memancing’ di restoran mancanegara yang menyajikan masakan dari negara Asia. Caranya, memberikan menu khas Indonesia untuk memikat lidah. Lewat pengenalan ini, kita harapkan wisatawan akan mendapatkan kesan,” kata Ketua Tim Percepatan Wisata Belanja dan Kuliner Kemenpar Vita Datau dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu.

Baca juga: NU’EST pengin cicipi kuliner Indonesia, apa saja?

Dengan cara ini, Kemenpar tidak harus bersusah payah menambah jumlah restoran Indonesia di luar negeri. Cukup menambah penyebaran menu khas Indonesia dan menggandeng restoran khas Asia lainnya.

“Ini adalah sebuah cara diplomasi kuliner dalam memperkenalkan destinasi wisata Indonesia. Sebuah cara yang cerdas dan cepat. Kita ambil menu dari restoran budaya Asia lainnya dengan menu khas Indonesia,” paparnya.

Vita menjelaskan banyak wisatawan terinspirasi untuk mencoba kuliner saat mengunjungi destinasi. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan.

Untuk segmen wisata kuliner, biasanya wisatawan akan memutuskan destinasi tujuan karena beberapa alasan. Seperti ingin mempelajari dan merasakan rasa otentik. Juga mendapat pengalaman kuliner yang baru.

Baca juga: Merry Riana: Gibran punya hasrat kuat populerkan kuliner Indonesia

“Hal seperti ini banyak sekali terjadi pada wisatawan dari Amerika Serikat, Australia, dan Inggris. Kita mengacu pada data dari Good Indonesian Food, sebuah ‘gastronomic tourism activities operator’ terbesar di Indonesia yang senantiasa membantu makanan dunia,” kata Vita.

Untuk mendukung menu take over, Wonderful Indonesia mengundang juru masak dari tiga restoran Asia terkemuka di London, yaitu Sticky Mango, Shan Shui dan Rasa Sayang.

Mereka diajak berkunjung ke Indonesia mengeksplorasi warisan kuliner Indonesia serta, mengenal lebih lanjut berbagai destinasi. Selain itu juga kegiatan wisata kuliner yang bisa dilakukan di Indonesia.

Sticky Mango adalah restoran Asia Tenggara modern terletak di Waterloo. Sticky Mango merupakan satu-satunya restoran khas Asia Tenggara yang selalu masuk menjadi top 10 restoran di London Besar pada situs TripAdvisor.

Sedangkan Shan Shui adalah restoran masakan Asia yang terletak di Blister Village, sebuah kompleks factory outlet terbesar di Inggris.

Baca juga: Kuliner dan kerajinan Indonesia dipromosikan di Marseille Prancis

Rasa Sayang adalah restoran masakan khas Asia Tenggara yang pertama ada di London, Inggris. Lokasinya tepat di Chinatown London yang sangat ikonik.

“Para juru masak yang diundang melakukan berbagai kegiatan di Bali sejak 10 – 18 Juli 2019. Adapun kegiatan mereka adalah jelajah makanan, kelas memasak, menjelajahi padar tradisional, hingga cultural dining immersion,” katanya.

Semua kegiatan ini membantu para juru masak untuk dapat mengenali esensi dari masakan Indonesia serta membantu mereka untuk dapat menciptakan resep masakan Indonesia di negara mereka.

Ketika kembali ke London, para juru masak di ketiga restoran ini harus memasukan Indonesia ke dalam menu mereka. Serta menjadikan masakan Indonesia sebagai fokus menu promosi di restoran mereka. Dengan kata lain menjadi mitra kita untuk mempromosikan wisata kuliner.

“Cara ini diharapkan akan menggugah keinginan calon wisatawan dari Inggris. Mereka yang tadinya akan datang ke negara Asia lainnya, menjadi ingin mengubah destinasi tujuan liburannya ke Indonesia,” ujar Vita.

Baca juga: Sajian kuliner Indonesia jadi sarana promosi di Portugal

Lezatnya Sate Kere Khas Solo

Pewarta: Ahmad Wijaya
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019