Industri keramik minta harga jual gas sama rata di Indonesia

Kami tidak minta sesuatu di luar kemampuan pemerintah. Kalau bisa disamakan saja jadi 7,98 dolar AS per mmbtu

Jakarta (ANTARA) – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) minta agar harga jual gas sebagai bahan bakar industri tersebut bisa ditetapkan sama rata di seluruh Indonesia.

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto dalam Pameran Keramika 2019 di Jakarta, Kamis, mengatakan harga jual gas di Indonesia ditetapkan tidak sama sehingga industri keramik tidak berkembang secara merata.

Ia merinci, harga gas di Jawa Timur misalnya sebesar 7,98 dolar AS per mmbtu, di Jawa Barat sebesar 9,1 dolar AS per mmbtu dan di Sumatera Utara sebesar 9,3 dolar AS per mmbtu.

“Kami tidak minta sesuatu di luar kemampuan pemerintah. Kalau bisa disamakan saja jadi 7,98 dolar AS per mmbtu,” katanya.

Edy menuturkan, industri memahami sulitnya pemerintah memenuhi janji untuk menurunkan harga jual gas menjadi sebesar 6 dolar AS per mmbtu guna mendorong industri.

Oleh karena itu, dunia usaha menginginkan agar ada jaminan keberlanjutan usaha dengan ketetapan harga yang serupa se-Tanah Air.

Pasalnya, menurut Edy, harga jual gas yang sama di seluruh negeri diharapkan dapat mendorong peningkatan kapasitas produksi industri keramik sehingga dapat memenuhi pasokan dalam negeri dan ekspor.

“Intinya kami ingin ‘sustain’ (berlanjut). Yang penting penyalur gas dan kami juga bisa tumbuh bersama sehingga harus punya harga gas yang ‘win-win’,” katanya.

Edy mengatakan disparitas harga jual gas di Indonesia membuat sejumlah perusahaan tidak berani berkembang.

Misalnya saja, industri keramik di Sumatera Utara yang harus terbebani harga gas 9,3 dolar AS per mmbtu akhirnya tidak mampu meningkatkan kapasitas produksinya. Industri itu hanya beroperasi untuk memenuhi kebutuhan daerah dan tidak berani mengekspor sehingga usahanya tidak berkembang.

“Kalau harganya sama, biarlah semua bertarung dari segi kreativitas, desain dan kualitas. Kalau bisa diberi harga gas yang sama dengan di Jawa,” katanya.

Baca juga: Pasca-CEPA, Menperin sebut keramik berpeluang masuk ke Australia

Baca juga: Kemenperin lindungi industri keramik dari serbuan impor

Baca juga: Menperin: Industri keramik dalam negeri prospektif
 

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019