Harga emas naik tajam, dipicu data ekonomi negatif dan pelemahan dolar

Chicago (ANTARA News) –  Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange lebih tinggi pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), dipicu oleh data ekonomi negatif dan dolar AS yang melemah.

Laporan Xinhua menyebutkan kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April, naik 8,20 dolar AS atau 0,62 persen, menjadi ditutup pada 1.322,10 dolar AS per ounce.

Logam mulia telah bergerak naik sejak Kamis (14/2) sore setelah Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa penjualan ritel pada Desember 2018 turun 1,2 persen dari bulan sebelumnya, penurunan terburuk dalam sembilan tahun terakhir.

Data tersebut dirilis jauh di belakang jadwal, karena penutupan sebagian pemerintah AS.

Momentum ekonomi yang lebih lemah mendukung ekspektasi bahwa Federal Reserve AS (AS) akan menghentikan kenaikan suku bunga lebih lanjut, yang menekan dolar AS.

Akibatnya, indeks dolar AS, ukuran greenback terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, turun di bawah 97 pada Jumat (15/2).

Emas dan dolar AS biasanya bergerak berlawanan arah. Jika dolar AS melemah maka emas berjangka akan naik, karena emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lainnya.

Pembelian teknis (technical buying) juga berkontribusi terhadap kenaikan emas pada Jumat (15/2), kata para analis.

Adapun logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 21,5 sen AS atau 1,38 persen, menjadi ditutup pada 15,743 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman April naik 17,70 dolar AS atau 2,24 persen, menjadi 806,90 dolar AS per ounce.

Baca juga: Bursa Prancis ditutup menguat, saham BNP Paribas melonjak

Baca juga: Bursa Jerman menguat tajam 210,01 poin, kerek lonjakan saham Deutche Bank

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019