Dirut IPC Elvyn G. Masassya, padukan konsep profesionalisme dan seni musik

Jakarta (ANTARA) – Memasuki era industri 4.0, digitalisasi adalah keniscayaan yang harus hadir di semua sektor bisnis, termasuk industri pelabuhan guna mendongkrak peningkatan produktivitas dan daya saing berskala internasional.

Salah satu pelabuhan yang telah memulai sistem digital adalah PT Pelindo II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) sejak 2016.

Untuk itu, IPC terus melalukan transformasi usaha melalui peta jalan (road map) yang dijalankan dengan target menjadi perusahaan pelabuhan berkelas dunia (world class port) pada tahun 2020.

Bagaimana strategi Pelindo II dalam menuntaskan program-program pembangunan infrastruktur dan layanan serta mencapai target-target yang ditetapkan manajemen?

Berikut wawancara khusus wartawan ANTARA, Aji Cakti dengan Direktur Utama PT Pelindo II (Persero) Elvyn G. Masassya.

Antara: Bagaimana pencapaian kinerja Pelindo II atau IPC tahun 2018? Apa yang saja yang sudah berhasil dibenahi?

Elvyn G. Masassya: Tahun 2018, Alhamdulillah kinerja IPC baik dari sisi operasional maupun keuangan lebih baik dibandingkan tahun 2017, dan bahkan lebih dari itu melampaui Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) kita.

Dari sisi keuangan, pada tahun 2018 IPC bisa mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,4 triliun, angka ini jauh di atas pencapaian pada tahun 2017 sebesar Rp2,2 triliun.

Sedangkan dari sisi operasional, terlihat juga peningkatan-peningkatan baik itu dari sisi peti kemas, pelayanan kapal dan lain sebagainya. Bahkan untuk peti kemas Pelindo II berhasil mencatatkan volume 7,6 juta TEUs (twenty-foot equivalent units) dan ini menjadi salah satu pencapaian tertinggi selama aktivitas IPC dalam kurun waktu 25 tahun terakhir.

Tentu di luar pencapaian operasional tersebut, kita juga melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan operasional kita dalam rangka menuju visi yang sudah kita sepakati untuk menjadi pengelola pelabuhan berkelas dunia yang unggul dalam operasional dan pelayanan.

Dalam sisi operasional, beberapa hal signifikan yang kita lakukan bersama insan IPC adalah membuat transformasi atau perubahan radikal (radical change) pola operasional dari yang sebelumnya manual menuju digital.

Digital ini bukan hanya dalam konteks pelayanan di terminal tapi melingkupi seluruh kegiatan pelabuhan secara korporasi, misalnya di sisi laut kita saat ini sudah memiliki yang namanya Marine Operation System dan beberapa hal lainnya dimana kita sudah bisa memonitor dan memantau pergerakan kapal sejak mereka berangkat dari pelabuhan awal sampai tiba di Pelabuhan Tanjung Priok.

Kemudian kita juga sudah mempunyai beberapa perangkat sistem di sisi terminal, seperti Terminal Operating System baik untuk peti kemas, non-peti kemas, lalu penghitungan kontainer yang dulu sifatnya manual atau “tally” sekarang sudah menjadi “auto tally”.

Selain itu kita telah membangun Container Freight Station yakni sebuah tempat dimana kontainer bisa dibongkar lalu dipecah-pecah isinya, dan kita bisa tahu siapa yang memiliki, dimana akan ditempatkan dan seterusnya secara sistem.

Kemudian kita juga membantu yang namanya Truck Identification, artinya seluruh truk yang ada di Pelabuhan Tanjung Priok ini didata sedemikian rupa, kemudian kita siapa pengemudinya, apa truknya, dan kemana kontainer itu akan dibawa.

Lalu di sisi keuangan, kita juga melakukan transformasi yang signifikan yakni seluruh transaksi di Pelabuhan Tanjung Priok ini berbasis elektronik yang kita sebut sebagai “cashless payment system”. Jadi tidak ada lagi pembayaran tunai dan pola yang kita lakukan ini tentu berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan yang lebih cepat, terdata, transparan serta akurat.

Dari situ maka kemudian kita bisa melihat dampaknya dimana produktivitas, pendapatan kita meningkat karena semua tercatat dengan baik. Ini cikal bakal untuk mentransformasi IPC ini menjadi pelabuhan yang disebut sebagai pelabuhan berbasis digital atau “digital port”.

Itulah beberapa langkah-langkah yang kita lakukan pada 2018, sebagai bagian dari roadmap kita untuk menuju pelabuhan berkelas dunia.

“Roadmap” ini sebenarnya sudah disiapkan pada tahun 2016, kami membaginya menjadi lima fase yakni fase pertama “fit in infrastructure” dimana kita menyiapkan sistem, standar serta prosedur, basis kultur dan lain sebagainya pada tahun 2016.

Dilanjutkan pada 2017 melalui fase “enhancement” atau peningkatan. Pada 2018 kemarin, masuk pada fase “establishment” atau pemantapan lalu pada 2019 saat ini kita berada di fase “sustainable performance” atau performa yang berkelanjutan.

Mudah-mudahan pada 2020 IPC bisa berada pada kluster yang disebut sebagai pelabuhan berkelas dunia. Begitulah kira-kira penjelasan singkat mengenai fokus yang kita jalankan sejak 2016, dan fokus 2018 kemarin.
Baca juga: Dirut IPC: “Trilogi Maritim” strategi kunci pembangunan negara maritim
Baca juga: Dirut IPC sarankan tiga basis untuk pembangunan ekonomi nasional

Antara: Apa target IPC pada tahun 2019, serta target jangka menengah dan panjangnya seperti apa?

Elvyn G. Masassya: Kita setiap tahun punya fase-fase, pada 2018 kemarin adalah fase “establishment” kemudian pada tahun ini fase “sustainable performance”.

Dalam fase performa berkelanjutan, ada tiga fokus kita yaitu pertama adalah growth secara organik dan anorganik. Growth secara organik adalah kita terus kembangkan kapasitas internal kita, bagaimana produktivitas lebih tinggi, layanan lebih cepat, biaya-biaya lebih kompetitif. Tujuannya adalah agar pelayanan pelabuhan ini bisa lebih cepat, mudah dan murah. Hal ini dilakukan dalam rangka mendukung program pemerintah untuk menekan ongkos logistik.

Di luar pertumbuhan organik, kita juga memiliki strategi growth secara anorganik. Selama ini IPC mengelola 12 cabang dan pengelolaannya dilakukan oleh 17 anak perusahaan. Selain itu, masih ada pelabuhan-pelabuhan lain yang di luar pengelolaan IPC misalnya pelabuhan yang dikelola oleh Kementerian Perhubungan atau disebut sebagai unit pelaksana teknis (UPT).

Kami melihat UPT-UPT ini bisa dimaksimalkan kalau dikolaborasikan dengan kami, jadi kita akan coba mencari beberapa pelabuhan di daerah yang kemudian alihkan pengelolaannya kepada kami sehingga IPC bisa lebih bertumbuh dan pelabuhan-pelabuhan itu lebih optimal pengelolaannya.

Fokus kedua, tahun ini kita akan fokus pada “National Connectivity”, yang artinya bagaimana kita terus membangun proyek-proyek strategis. Saat ini kita sudah dalam proses pengerjaan sebuah proyek besar di Kijing, Kalimantan Barat dimana kita membangun pelabuhan peti kemas, non-peti kemas dan lain sebagainya dimana pelabuhan ini akan dilengkapi dengan kawasan ekonomi khusus. Hal itu dalam rangka meningkatkan konektivitas antar-pulau di Indonesia.

Selain itu kita juga akan segera mengembangkan kanal Cikarang-Bekasi laut, tujuannya adalah mendistribusikan barang-barang dari Tanjung Priok ke Cikarang yang sebelumnya melalui darat kita beri opsi yang baru yakni melalui laut dengan menggunakan kapal-kapal tongkang besar.

Tentu di luar itu masih banyak proyek lainnya, seperti di Sorong, Papua, kemudian Palembang, dan berbagai pelabuhan lainnya.

Fokus ketiga di era “sustainability” ini, kita juga memiliki strategi yang namanya ekspansi global atau “global expansion”, dimana IPC ingin mengelola atau menjadi operator pelabuhan-pelabuhan di luar negeri.

Tiga hal tersebut merupakan fokus strategi kita di tahun 2019 yang kita harapkan bisa meningkatkan kinerja IPC baik dari sisi operasional, pelayanan, dan lebih dari itu sebagai pengelola pelabuhan Indonesia nantinya bisa berkelas dunia.

Antara: Pada April 2019, Anda genap tiga tahun dipercaya mengendalikan IPC. Tentu selama itu ada pasang surut dalam mengelola perusahaan IPC, bisa diceritakan?

Elvyn G. Masassya: Dimanapun kita berada basisnya tentu profesionalitas yakni melakukan hal yang benar dengan cara yang benar.

Ketika saya bergabung dengan Badan Usaha Milik Negara ini kurang lebih tiga tahun lalu, kita tidak boleh menerka-nerka, kita harus pelajari, cermati dan prinsip saya saat itu adalah empat hal yakni pertama teruskan yang sudah baik, kedua luruskan yang belum sempat diluruskan, ketiga selesaikan yang belum selesai, dan keempat kerjakan yang belum sempat dikerjakan. Empat prinsip ini adalah basis profesionalitas manajemen di industri apapun.Dengan dasar itu tentu kita coba pelajari dan mencoba melihat di mana posisi IPC saat itu.

Dan saya mengajak seluruh teman-teman di sini menyampaikan pemikiran saya bahwa kalau perusahaan ini mau hebat dia harus memiliki tiga hal yakni pertama kesepahaman pemikiran mau dibawa ke mana perusahaan ini. Kedua loyalitas tunggal kepada kepentingan perusahaan, dan ketiga ialah kecakapan yang memadai dari insan IPC dalam tiga hal yakni kecakapan intelektual, kecakapan emosional dan kecakapan spiritual. Itu basisnya. Kalau kemudian teman-teman sepakat maka kita kembangkan perusahaan ini. Ini yang saya sebut sebagai mengelola perusahaan atau “Managing Corporation”

Tentu dalam pengembangan perusahaan tidak cukup hanya IPC karena kita berinteraksi dengan berbagai pihak, ada yang namanya pemangku kepentingan yang didalamnya terdapat customer, karyawan, masyarakat sekitar, pemerintah, dan pemegang saham.

Lima elemen pemangku kepentingan ini harus dikelola, maka tantangan terbesarnya adalah mengelola pemangku kepentingan atau “managing stakeholder”. Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC Elvyn G. Masassya dalam wawancara khusus dengan Antara di Jakarta, Rabu (13/3/2019). (ANTARA FOTO/Dhemas Atmodjo)
Namun untuk menuju kelas dunia itu pasti akan dilakukan berbagai “changes” atau perubahan-perubahan. Perubahan ini harus dilakukan karena kita harus mengikuti perkembangan zaman, jika tidak kita digilas zaman.

Tantangannya adalah bagaimana meyakinkan para pemangku kepentingan, perubahan yang kita lakukan memberikan manfaat yang lebih banyak bagi semua pihak. Saya menyebutkan dua falsafah terkait hal ini, pertama kalau Anda ingin kehidupan yang lebih baik maka tumbuh bersama, karena para pemangku kepentingan ini banyak mari kita tumbuh bersama-sama.

Falsafah kedua adalah kolaborasi, jadi semua pihak harus berkolaborasi, memberikan manfaat kepada semuanya untuk nanti sampai pada satu titik yang valuenya lebih tinggi.

Jadi secara falsafah saya sebutkan tantangannya adalah menciptakan value atau nilai yang baru, sehingga semua pihak merasakan manfaatnya. Dan ini menjadi tantangan, utamanya adalah meyakinkan para pemangku kepentingan bahwa perubahan yang kita lakukan akan memberikan manfaat bagi semua pihak.

Para pemangku kepentingan yang awalnya harus kita yakinkan tentunya dari internal terlebih dahulu, seperti karyawan IPC, serikat pekerja di IPC group bahwa yang kita lakukan ini pada ujungnya akan meningkatkan kesejahteraan, kepastian dalam bekerja, dunia kerja yang lebih nyaman dan berbagai hal lainnya.

Ini memang tidak sederhana, tapi saya yakin apa yang kita lakukan jika diawali dengan niat yang baik, tidak kepentingan pribadi, dan basisnya profesionalitas harusnya perubahan itu bisa diterima.
Baca juga: IPC jajaki pemindahan artefak Indonesia dari Belanda ke Museum Maritim
Baca juga: Kembangkan sayap bisnis, IPC ingin kelola pelabuhan luar negeri

Antara: Sebelum memimpin IPC ini, Anda pernah memegang beberapa posisi penting di sejumlah perusahaan, seperti bank dan korporasi lainnya. Boleh diceritakan bagaimana perjalanan karir Anda hingga bisa mengubah wajah Pelabuhan Tanjung Priok?

Elvyn G. Masassya: Pertama saya mencoba berprinsip bahwa hidup itu mengalir, namun di sisi lain kita juga percaya bahwa manusia itu diberikan anugerah oleh Tuhan yakni akal pikiran. Bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat, dan kita dengan menggunakan pikiran tentu berikhtiar.

Lalu saya mulai berkarier, saya ceritakan awal karier saya sebetulnya mulai serius berkarier di bank BNI pada tahun 1990an, sebelum itu saya sempat bekerja di satu – dua perusahaan.

Setelah menjadi karyawan bank BNI hingga mencapai tingkat manajemen senior, saya mendapatkan amanah untuk menjadi Komisaris Bank Bali sekitar tahun 2001.

Lalu pada tahun 2002 saya mendapatkan amanah sebagai Managing Director di Bank Permata, kemudian setelah itu saya sempat kembali ke bank BNI sekitar tahun 2007, cuma enam bulan. Setelahnya saya masuk jajaran direksi perusahaan di bidang petrochemical.

Setelah itu saya ke Jamsostek sebagai Investment Director, kemudian pada 2012 saya mendapatkan amanah sebagai Direktur Utama Jamsostek lalu menjabat Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan pada tahun 2014. Dan pada April 2016 yang lalu, saya diamanatkan untuk menjadi CEO atau Direktur Utama Pelindo II.

Seluruh perusahaan itu memang memiliki bidang yang berbeda-beda, ada perbankan, petrochemical, social insurance, social security dan sekarang di pelabuhan. Hakekatnya sebetulnya adalah manajemen, jadi dimana pun kita berada kalau saya pelajari intinya yakni manajemen, pengelolaan korporasi.

Bahwa produknya berbeda-beda itu hanya sekedar produk atau jasa, tapi toolsnya sama karena secara korporasi kita tahu ada aspek komersial, operasional, keuangan, Sumber daya manusia dan sebagainya. Semua perusahaan memiliki elemen-elemen ini, dan sebagai pimpinan tentunya tugas kita mengoordinasikan, mengarahkan elemen-elemen korporasi tersebut dengan baik dan benar untuk mencapai tujuan perusahaan.

Yang membedakan adalah ambiens atau suasananya, ada suasana kerja di tengah kota seperti bank juga ada suasana di pinggir kota seperti di pelabuhan.

Cuma saya mungkin beruntung karena dari semua perusahaan yang saya masuki, pada umumnya berbasis jasa. Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC Elvyn G. Masassya dalam wawancara khusus dengan Antara di Jakarta, Rabu (13/3/2019). (ANTARA FOTO/Dhemas Atmodjo)
Pelabuhan pun sebetulnya bergerak dalam bidang jasa, banyak orang berpikiran bahwa pelabuhan itu melakukan pekerjaan yang riil, sebetulnya tidak. Pelabuhan itu tidak memproduksi apapun, tapi dia memberikan jasa seperti jasa kapal datang, jasa kapal tambat, jasa bongkar muat, jasa mendistribusikan barang, itu semua jasa.

Prinsip jasa itu relatif sama, ada empat karakteristik usaha di bidang jasa yang harus dipenuhi oleh perusahaan apapun kalau mau sukses. Pertama, jasa itu harus mampu memberikan kecepatan Di Pelabuhan, ada yang namanya “dwelling time” dimana barang datang kemudian segera keluar, tidak boleh lama-lama tertahan di pelabuhan karena kalau lama-lama distribusinya menjadi lambat.

Kedua adalah akses, dimana di Pelabuhan kalau kapal datang dia harus bisa cepat tambat, punya tempat di terminal yang banyak. itu yang namanya akses.

Ketiga adalah penampilan fisik atau “physical presence”. Penerapannya di pelabuhan yakni peralatannya harus bagus dan canggih, supaya produktivitasnya tinggi.

Karakteristik keempat yakni bersahabat atau “friendly”, yang artinya kalau di pelabuhan ongkosnya tidak boleh mahal-mahal. Kalau bisa dipercepat, janganlah diperlambat.

Empat karakteristik di bidang jasa ini, buat saya sama saja di berbagai bidang yang saya geluti. Perbedaannya hanyalah ambiens atau suasana, menurut saya itulah indahnya kehidupan. Kita harus menjalani, menghadapi dan melakukan yang terbaik dimanapun kita berada.

Antara: Selain berkarir sebagai profesional dengan memimpin sejumlah memimpin perusahaan, dimana salah satunya sebagai Direktur Utama IPC, Anda juga dikenal sebagai seorang pemusik, musisi, pencipta lagu dan penyanyi jazz. Apakah Anda sekarang masih menekuni hal tersebut dan pernah berkolaborasi dengan musisi siapa saja?

Elvyn G. Masassya: Bagi saya hidup itu adalah keseimbangan, dunia ini ditakdirkan ada pagi dan malam, tidak ada yang tunggal tapi sifatnya seimbang. Kita memiliki otak kiri dan kanan, punya perasaan dan akal.

Saya merasa hidup itu harus seimbang, maka selain berkarier sebagai profesional saya pikir untuk keseimbangan haruslah memiliki hobi. Salah satu hobi yang saya adalah di bidang musik.

Karena musik itu mengeksplorasi rasa, bisa menimbulkan empati, menjadikan diri kita lebih manusia bukan robot. Itu sebabnya saya bermusik dan sejak kecil menyenangi musik dengan memainkan alat-alat musik seperti gitar, piano, dan main band. Saya sebetulnya tidak bisa nyanyi, hanya senang membuat lagu.

Dan dari situ mulai membangun hubungan dengan komunitas di bidang seni, maka saya banyak berteman dengan banyak penyanyi, musisi, dan kemudian pelan-pelan mereka mendorong sehingga pada akhirnya saya menjadi produser, memproduksi album-album sampai beberapa tahun lalu masih memproduksi album.

Beberapa penyanyi yang pernah berkolaborasi dengan saya pada awalnya adalah teman, seperti (almarhum) Dian Pramana Poetra, Mus Mujiono, Deddy Dhukun, Berlian Hutauruk dan sejumlah penyanyi era waktu saya muda serta aktif.

Di luar itu ada juga penyanyi-penyanyi lain yang sekali dua kali bekerjasama dengan saya, menyanyikan lagu-lagu saya di album.

Mungkin ada sekitar 30 album yang saya produksi dengan penyanyi yang bermacam-macam, ada juga kompilasi. Sesekali saya pernah membuat album juga, namun sayangnya kurang beruntung di pasaran (sambil tertawa).

Namun ada juga yang membuat saya cukup senang, seperti lagu-lagu saya yang bawakan pernah beberapa kali masuk nominasi AMI (Anugerah Musik Indonesia) Awards. Yang paling berkesan itu saat salah satu vokalis Java Jive yakni Dany pernah menyanyikan lagu saya dan masuk nominasi AMI Awards tahun 2015.

Tapi intinya ini untuk keseimbangan saja, karena kalau kita punya kreatifitas, kreatifitas itu sebaiknya kita bagi untuk banyak orang. Mana tahu ada orang yang suka juga, dan kalau orang suka berarti kita telah membahagiakan orang dan itu memberi dimana memberi merupakan aktivitas mulia yakni memberikan manfaat bagi banyak orang.

Antara: Anda juga memiliki program untuk mengenalkan budaya maritim melalui museum di Pelindo II, boleh diceritakan motivasinya?

Elvyn G. Masassya: Begini kita tahu Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mencanangkan Indonesia sebagai negara maritim, dan pelabuhan ini adalah salah satu elemen dari ekosistem maritim.

Namun, saya melihat kita negara maritim dan bahari tapi tidak memiliki museum maritim. Kemudian setelah kita cek kebetulan di Pelabuhan Tanjung Priok ini kita memiliki satu gedung yang bersifat warisan sejarah.

Gedung yang sudah lama, dibangun sejak zaman kolonial di kompleks kantor IPC. Lalu saya memiliki gagasan, kenapa gedung ini tidak kita konversi sebagai museum. Tapi bukan museum ala kadarnya, harus menjadi referensi bagi masyarakat yang ingin melihat perkembangan maritim Indonesia. Dasar pemikiran itulah kemudian kita wujudkan menjadi Museum Maritim Indonesia di Priok ini.

Saya tahu ada yang namanya Museum Bahari, namun bahari lebih kepada kelautan sedangkan maritim itu satu ekosistem yang luas seperti bagaimana perkembangan pelabuhan di Indonesia dan kapan dibangunnya. Dengan satu konsep itu, maka kita kembangkan Museum Maritim yang sekarang sudah bisa dikunjungi oleh masyarakat.

Mudah-mudahan museum ini bisa menjadi satu referensi tentang perkembangan maritim Indonesia. Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC Elvyn G. Masassya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (13/3/2019). (ANTARA FOTO/Dhemas Atmodjo)
Antara: Revolusi Industri 4.0 akan segera tiba, menurut Anda apakah revolusi ini harus diwaspadai atau dirangkul? Serta mungkinkah Revolusi Industri 4.0 akan menimbulkan masalah pemutusan hubungan kerja atau PHK?

Elvyn G. Masassya: Sama sekali tidak! Kalau kita hidup ada yang namanya hukum alam. Salah satu yang sering saya ungkapkan kepada teman-teman ialah kalau kita ingin mendapatkan sinar matahari maka kita harus mengikuti ke mana matahari bergerak, kalau kita diam di tempat maka kita akan kehilangan sinar matahari.

Dalam konteks itu dunia ini berubah, ada tren sekarang yang dikenal sebagai “vuka” yakni volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity. Keempat hal ini merupakan basis munculnya dunia digital.

Maka ketika dunia digital itu mengemuka, berbagai sektor pun mengadopsinya lalu muncullah apa yang disebut sebagai Revousi 4.0. Dimana aktivitas industri nantinya akan berbasis digital.

Ini adalah perkembangan zaman, kita tidak bisa menghentikan perkembangan zaman. Yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi dengan perkembangan zaman, sehingga kita kontrol perkembangan zaman tersebut.

Dalam konteks Revolusi Industri 4.0, tentu kita harus peduli dan menyiapkan diri. Maka dari itu kami bertransformasi menjadi digital port atau pelabuhan berbasis digital, karena ada trend dalam perkembangan zaman.

Misalnya, pelabuhan ini tidak bisa hidup sendiri karena pelabuhan itu hanya bisa hidup kalau ada kapal yang datang dan menimbulkan interaksi, sebagai pintu gerbang perekonomian.

Di dunia ini ada trend perubahan kapal, kapal yang dulunya kecil-kecil itu sudah berafiliasi dan kemudian berubah menjadi kapal-kapal raksasa. Kemunculan kapal-kapal raksasa ini diikuti dengan teknologi sehingga dia menjadi digital, maka kita pun harus beradaptasi bagaimana melayani kapal yang berbasis digital.

Kemudian di sisi terminal ada perkembangan, dulu orang mengangkut barang dengan cara dipikul terus berubah dengan menggunakan crane yang dikendalikan oleh operator. Nantinya crane itu mungkin bisa dioperasikan secara otomatis menggunakan remote, kemudian untuk mengetahui kedatangan serta posisi kapal itu sudah menggunakan kecerdasan buatan dan datanya bisa disimpan kemudian bisa digali isinya.

Ada istilah-istilah Revolusi Industri 4.0 yang disebut dengan robotik, kecerdasan buatan (artificial intelligence), augmented reality, dan big data. Istilah-istilah ini yang mau tidak mau harus membuat kita beradaptasi dengannya.***1*** (KR-AJI)

Oleh Aji Cakti
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019