Dari Tanah Ombak memantik budaya literasi

Padang (ANTARA) – Angin laut menyelinap masuk lewat pintu kayu yang terbuka, menyisir rambut bocah-bocah yang larut dalam buku bacaan di pemukiman warga di Purus III, Kota Padang, Sumatera Barat.

Mereka “bergelimpangan” di lantai porselen tak beralas. Lantai yang sejuk membuat mereka betah berlama-lama tenggelam dalam halaman buku.

Sebagian lagi, bocah-bocah yang lebih kecil, lebih tertarik dengan balok-balok kayu yang bisa disusun menjadi berbentuk bangunan. Sekilas seperti lego, permainan anak yang lagi hit itu, namun lebih sederhana.

Di bagian agak ke belakang sedikit, beberapa remaja sedang asyik mangacak-acak komposisi musik dengan memadukan suara gitar dengan pianika dan melodi dari balera.

Beberapa kesalahan yang membuat komposisi musik itu menjadi kacau, membuat mereka tertawa. Menertawakan kesalahan sendiri dan memulai kembali. Dalam beberapa menit, komposisi musik itu mulai terasa enak di telinga.

Tempat itu berada gang pemukiman nelayan Purus, paling ujung. Beberapa tahun lalu, tempat itu terasa begitu sesak. Rumah yang bertumpuk-tumpuk, saling himpit hanya menyisakan jalan beton selebar satu meter membelah tengah-tengah pemukiman.

Udara pinggir pantai yang gerah memaksa penghuni rumah untuk berangin-angin di beranda luar yang sebenarnya tidak pula pantas disebut beranda.

Suasana sumpek itulah yang membangun karakter anak-anak di pemukiman itu. Seperti botol yang sudah terlalu penuh sesak isinya, dengan sendirinya akan mencari jalan untuk keluar agar tidak pecah.

Begitulah, maka caci maki dan kata-kata kotor lalu meluas pada tindakan-tindakan yang melenceng dari norma-norma, seakan representasi dari upaya “melarikan diri” dari situasi penuh sesak itu. Pelampiasan agar tidak “meledak”.

Tanah Ombak

Pada kondisi itulah “Tanah Ombak” lahir. Sebuah rumah yang terletak di ujung paling dalam pemukiman tersebut, “dibuka” menjadi sebuah rumah seni dan literasi.

Anak-anak nelayan di pemukiman itu seakan menemukan sebuah oase di tengah sesaknya hidup yang mereka rasakan. Tanah Ombak menjadi ruang bagi mereka untuk bermain, membaca, dan mengekspresikan diri sebagai insan yang juga memiliki potensi untuk menjadi orang-orang besar di negeri ini.

Pengelola Tanah Ombak Syuhendri menyebut tidak membatasi anak-anak yang datang untuk bermain dan belajar di sana. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu tidak boleh berkata kasar, menjaga kebersihan, tidak boleh main fisik, dan belajar mendengar.

Anak-anak itu kemudian diajarkan untuk membaca dan setiap kali berkunjung diwajibkan membaca minimal 15 menit. Budaya literasi yang dibangun di Tanah Ombak itu berlahan-lahan juga berhasil membangun nilai-nilai positif di pemukiman kumuh nelayan itu.

Pemahaman Syuhendri tentang teater yang sudah “masak”, juga ditularkan pada anak-anak nelayan yang kemudian mulai merasakan manisnya sebuah prestasi di tingkat nasional.

Tempat yang sarat nilai dan perjuangan itu menarik minat tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membawa pelajar peserta Siswa Mengenal Nusantara (SMN) yang merupakan program BUMN Hadir Untuk Negeri ( BHUN) 2019 untuk “belajar” di sana.

Tiga BUMN itu, PT KAI, PT Semen Padang dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) menilai kegiatan bedah buku yang dilakukan, Minggu (18/8) memiliki semangat literasi yang sama dengan Tanah Ombak. Mereka ingin mematik api literasi di dada SMN asal Kalimantan Selatan itu.

Assistant Manager Environmental development PT KAI Yunanto mengatakan menulis sudah menjadi sebuah hal yang tidak terpisahkan dari SMN sejak dua tahun terakhir. Dua buku sudah dilahirkan dari upaya membuka cakrawala berfikir pelajar terpilih dari seluruh Indonesia itu dengan memperkenalkan kekayaan budaya bangsa.

Menteri BUMN Rini Soemarno dalam sambutan buku SMN 2018, “Bingkai Anak Negeri”, mengatakan banyak generasi muda yang tidak mengetahui betapa besarnya dan kayanya negara Indonesia dengan beragam budaya dari Aceh hingga Papua dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

BUMN memiliki tanggung jawab untuk memberikan “penyadaran” akan hal itu agar generasi muda itu memiliki rasa kebanggaan yang kuat pada tanah air dan kelak menjaga persatuan dan kesatuan NKRI hingga Indonesia menjadi negara yang besar.

Pengalaman berinteraksi dengan kekayaan budaya Indonesia itu akan dituliskan sebagai sebuah buku harian atau diary. Catatan perjalanan sederhana yang bisa pula menjadi agen pembuka cakrawala berfikir generasi-generasi selanjutnya.

Agar memiliki pembanding, SMN 2019 dari Kalimantan Selatan mengikuti acara bedah buku “Bingkai Anak Negeri” yang ditulis peserta SMN 2018. Dua pembicara dihadirkan untuk bedah buku itu yaitu Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat, Muasri dan psikolog Universitas Negeri Padang (UNP), Tuti Rahmi, M.Psi.

Muasri menyebut menulis diary atau catatan harian adalah sesuatu yang positif. Tulisan itu selain sangat bermakna bagi penulisnya, juga bisa menjadi pembelajaran bagi generasi selanjutnya, yang membaca diary itu.

Kebudayaan Minangkabau menurutnya lebih kental pada tradisi lisan dari pada tulisan. Namun itu tidak membatasi bagi generasi saat ini untuk bisa menuliskan kegiatan sehari-hari dalam bentuk diary.

Merujuk diary SMN 2018 yang dinilainya sangat sederhana dari segi konten, ia mendorong agar SMN 2019 lebih mengeksplorasi kekayaan budaya dari daerah yang dikunjungi sehingga siapapun yang membaca nantinya bisa menangkap gambaran yang jelas tentang budaya dari seluruh Indonesia.

Ikhsanul Sodikin

Api yang mulai terpatik di dada peserta SMN itu menjelma pertanyaan. Ikhsanul Sodikin salah seorang peserta yang memiliki kekurangan penglihatan adalah salah satunya.

Ia meragukan kemampuannya untuk bisa menjadi penulis yang baik, dengan kekurangannya. Ia menilai mata adalah jendela dunia. Semua mempelajari dunia lewat mata.

“Bagaimana saya bisa menuliskan pengalaman interaksi budaya dengan kekayaan budaya ini sementara saya tidak bisa merabanya? atau mendengarnya?”

Api literasi itu menjadi keinginan yang menggebu di dada anak muda itu. Tekad untuk melampaui kekurangannya terlihat kentara di raut wajahnya.

Kekurangan itu menurut Muasri harus bisa dijadikan sebuah kekuatan. Sudut pandang menilai sesuatu untuk ditulis tidak melulu bergantung pada mata. Bisa lewat rabaan, lewat pendengaran, bau dan keinginan untuk bertanya. Pemikiran-pemikiran itu bahkan bisa direkam, kemudian dituliskan oleh orang lain.

Sementara Tuti Rahmi menyebut menulis sangat baik untuk psikologi pelajar sebagai salah satu penyaluran dari perasaan. Apapun yang dirasakan yang kadang sulit diungkapkan bisa diekspresikan melalui tulisan. Ia mendorong agar SMN 2019 berani untuk bermimpi dan berupaya menggapai mimpi itu.

Pengalaman berinteraksi dengan kekayaan budaya di Indonesia sebagai salah satu cara untuk memperluas “zona nyaman”, bisa menjadi salah satu jalan untuk menggapai mimpi itu.

Pada Ikhsanul Sodikin ia berpesan agar tetap menjaga aura positif di dalam diri serta percaya pada kemampuan sendiri untuk menggapai mimpi-mimpi. Tekad menurutnya bisa mengalahkan semua kekurangan untuk mencapai keberhasilan.

Siang itu, di antara debur ombak Purus, di antara desau angin pesisir Barat Sumatera, setitik api telah memantik di dada SMN 2019 asal Kalimantan Selatan itu. Api literasi yang akan menggiring mereka pada masa depan. Akankah nanti mereka akan menjadikan Indonesia sebagai negara besar yang disegani oleh negara-negara di dunia?

Akankah mimpi-mimpi yang bermula di pemukiman nelayan di pesisir barat Sumatera itu akan diwujudkan dengan aksi nyata untuk Indonesia yang lebih baik?

Tanah Ombak menjadi saksi, untuk lahirnya pemimpin negeri. Nanti, sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun lagi.

Pameran Sejarah Budaya Literasi di Indonesia

Oleh Miko Elfisha
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019